India memiliki populasi yang berkembang lebih dari 1,3 miliar dan hampir menyalip Cina menjadi negara paling padat di dunia. Namun, sebagian besar penduduk masih tidak memiliki akses ke layanan perbankan dasar, apalagi fasilitas kredit. Meskipun keberhasilan Program Pemenrintah India, Jan Dhan Yojana yang ambisius, yang telah meningkatkan rekening bank menjadi 80% sejak 2011, lebih dari 190 juta orang dewasa India belum memiliki akses ke saluran perbankan formal.

Sekitar 70% penduduk India saat ini tidak terlayani oleh pemberi pinjaman institusional. Metodologi penilaian kredit yang digunakan oleh bank dan layanan keuangan non-perbankan (NBFC) fokus pada pinjaman berbasis agunan, menggunakan riwayat kredit sebagai sarana untuk membuat keputusan pinjaman tidak ada tempat untuk mempercepat agenda inklusi keuangan.

Hal tersebut menciptakan masalah untuk peminjam individu serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). UMKM  yang memiliki arus kas baik dan niat untuk membayar tetapi minimnya riwayat kredit yang ditetapkan atau peringkat kredit yang rendah membuat pihak UMKM tidak mendapatkan pinjaman. Selain itu, pihak bank memiliki prosedur birokrasi dan pemeriksaan kepatuhan yang memperlambat penyaluran dana.

Tantangan ini telah melahirkan beberapa fintech startuup menggunakan kecerdasan buatan untuk menciptakan pinjaman alternatif dengan menganalisis perincian pribadi, profesional, sosial dan keuangan menggunakan model manajemen risiko yang digerakkan oleh data dan perilaku yang inovatif. Penghematan biaya menggunakan saluran digital seperti web atau mobile diteruskan ke peminjam dalam bentuk suku bunga rendah atau biaya pemrosesan untuk pemberi pinjaman dan pengembalian yang lebih baik. Seiring waktu, peminjaman ini diharapkan dapat menjadi pelanggan utama untuk lembaga keuangan perbankan.

Sementara fintech kuat di daerah perkotaan, daerah pedesaan India masih jauh tertinggal karena pendidikan yang buruk dan ketidakmampuan untuk membayar biaya yang lebih rendah dari layanan fintech. Hal tersebut karena mereka terbiasa dengan transaksi tunai. Persyaratan keuangan pekerja harian, petani, atau keluarga sangat berbeda dengan pekerja kantoran di kota. Transisi ke fintech dirasa sulit bagi mereka yang terbiasa menggunakan uang tunai.

Namun, pesatnya perkembangan smartphone dan peningkatan akses ke internet memudahkan fintech menjangkau kelompok berpenghasilan rendah dan menengah. Perusahaan-perusahaan Fintech secara perlahan menyesuaikan diri untuk memenuhi kebutuhan segmen ini. Sekarang konsumen India di area yang lebih kecil secara perlahan menjadi lebih menerima platform UPI dan dompet ponsel seperti Paytm. Hal tersebut menumbuhkan inklusi keuangan di negara tersebut.

Tidak berbeda dengan Indonesia, fintech juga menjadi harapan untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh pihak OJK dan Bank Indonesia (BI) mengingat di tahun 2019 inklusi keuangan Indonesia ditargetkan pada angka 75%. Salah satu perusahaan fintech yang ikut berkontribusi untuk meningkatkan inklusi keuangan Indonesia adalah PT Hensel Davest Indonesia (HDI).

HDI memfokuskan dirinya di Indonesia Timur untuk mengembangkan potensi UMKM dan meningkatkan inklusi keuangan dan cashless society di daerah tersebut mengingat belum adanya perusahaan fintech yang fokus di sana. Melalui platform DavestPay dan empat anak perusahaannya seperti PinjamAja, Emposh, BiroPay, dan MoTransfer, HDI berharap agar pengangguran dan kemiskinan dapat berkurang di Indonesia Timur.

 
Keywords : DavestPay,Fintech,UMKM,Inklusikeuangan,India,Indonesia,Rekeningbank,Keuangan,Technology,Digital,Application,Web