Krisis di China membuat platform peer to peer (P2P) lending di sana menjadi fokus banyak orang. Krisis ini muncul setelah adanya upaya untuk melunasi semua peminjaman. Sayangnya, tidak ada regulasi tepat yang mengatur platform peer to peer (P2P) lending di China. Hasilnya, krisis pun terjadi di sana.

P2P lending adalah sistem yang memberikan pinjaman uang kepada individu atau perusahaan melalui platform online. Platform online berfungsi sebagai landasan bersama di mana pemberi pinjaman dan peminjam dicocokkan. Sistem P2P lending diminati karena beberapa faktor, seperti banyak pilihan untuk mendapatkan pinjaman dengan bunga yang rendah dan pengembalian yang lebih mudah dari pada perbankan.

Walaupun begitu, P2P lending memiliki sejumlah kelemahan. Ketidakmampuan peminjam membayar pinjamannya menjadi salah satu kendala dari P2P lending. Hal tersebut tentu membuat perusahaan penyedia layanan P2P lending akan mengalami kerugian yang besar. Hal itu pula yang menyebabkan terjadinya krisis di China belum lama ini.

Akan tetapi, krisis di China tidak menyurutkan India untuk merintis P2P lending. Pihak yang berkepentingan mulai menentukan langkah-langkah agar krisis P2P lending di China tidak menimpa India. Selain itu, Reserve Bank of India (RBI) telah menyatakan dengan jelas bahwa platform ini akan terdaftar sebagai perusahaan keuangan non-perbankan dan memberikan panduan untuk mereka. Meskipun baru sedikit yang terdaftar sebagai platform P2P lending di bawah RBI, munculnya beberapa situs dengan klaim sebagai platform P2P lending membuat RBI perlu mengawasi platform yang sudah tersedia di India.

Tak ingin mengalami hal yang sama di China, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengatur regulasi P2P lending di Indonesia. Aturan itu ditetapkan OJk agar konsumen dapat terlindungi dari perusahaan P2P lending yang nakal. OJK juga memerintahkan agar seluruh perusahaan fintech mendaftarkan diri di OJK agar dapat di awasi.

Salah satu perusahaan fintech Indonesia yang sudah terdaftar di OJK adalah PT Hensel Davest Indonesia (HDI). HDI merupakan perusahaan fintech yang berfokus di Indonesia Timur. Melalui platform DavestPay dan empat anak perusahaannya, Emposh, BiroPay, PinjamAja, MoTransfer, HDI ingin mengurangi penggangguran dan kemiskinan di Indonesia Timur agar cashless society dan inklusi keuangan dapat tercipta di wilayah tersebut. Hal ini dilakukan HDI karena belum adanya perusahaan fintech yang fokus mengembangkan wilayah Indonesia Timur.

 
Keywords : DavestPay,Pinjamaja,Biropay,Motransfer,Emposh,Startup,Fintech,Technology,India,Startup,UMKM,FintechLending,Pendanaan