Enam remaja berkebangsaan asing berjalan bertelanjang kaki di pematang sawah Desa Wisata Kandri di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Ditemani seorang pemandu, langkah mereka berhenti di sebuah gubuk tempat sejumlah petani beristirahat.

Rombongan bule tersebut berjalan menuju petak sawah yang siap panen dengan berbekal peralatan pinjaman dari para petani. 

Lucy Steinfort salah seorang siswa terlihat canggung memegang sabit dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya erat menggenggam batang padi. Saat mencoba memotong batang padi dengan sekali tebas dan batang padi terpotong, Lucy langsung terseyum lebar.

Setelah mencoba memanen padi ia kemudia mencoba menanam padi. Dengan kondisi badan yang belepotan lumpur ia mengatakan, “It’s good. Muddy”.

Lucy dan 5 siswa bule lainnya adalah siswa program pertukaran pelajar dari Goulburn Valley Grammar School Shepparton Australia di SMP dan SMA Krista Mitra, komplek Puri Anjasmoro, Kota Semarang.

Mereka datang ke Desa Wisata Kandri bersama 20 siswa lain dari SMP-SMA Krista Mitra dan didampingi tiga guru.

Mereka merasakan hidup ala petani dan berkegiatan layaknya penduduk desa bisa dirasakan wisatawan di Desa Wisata Kandri. Desa wisata yang terbentuk sejak Desember 2012 itu dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) kelurahan Kandri.

Edi Zubaedi salah satu anggota Pokdarwis Desa Wisata Kandri mengatakan merasakan hidup ala petani merupakan pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan yang datang di RW 1.

“Di Kandri, ada empat RW. Khusus di RW 1, wisatawan bisa mengikuti edukasi pertanian, mulai dari menanam dan merawat padi, singkong juga pepaya. Bahkan mereka juga bisa ikut memanen jika musim panen tiba,” kata Edi.

Sementara di RW 2, kegiatan wisatawan lebih terpusat untuk outbound. Berbagai permainan mulai tantangan sampai uji adrenalin seperti river tubing.

“Di RW 3 terdapat pusat kesenian tari dan obyek wisata Goa Kreo. Sedangkan di RW 4, lebih fokus ke kuliner hasil pertanian, terutama olahan ketela. Wisatawan bisa melihat dan ikut praktik membuat getuk dan tiwul.

Karena semua kegiatan ini tidak cukup jika hanya dilakukan sehari maka wisatawan dapat tinggal di Desa Wisata Kandri. Namun, Edi menegaskan kalau di Desa ini tidak ada homestay atau penginapan yang akan memanjakan pelancong untuk beristirahat.

“Konsepnya live in. Jadi wisatawan bisa tinggal di rumah warga dan mengikuti kegiatan mereka mulai pagi hingga malam. Yang tinggal di rumah petani ya akan bertani, di rumah peternak ya ikut beternak. Jadi wisatawab benar-benar merasakan menjadi penduduk pedesaan dalam arti sebenarnya tetapi tetap dengan pengawalan kami,” tambah Edi.

 
Keywords : kandri,wisata nusakambangan,peson nusakambangan,pantai di nusakambangan,jalan jalan murah,tiket murah