Jika ingin belajar sejarah sambil berwisata, cobalah datang ke Cirebon, Jawa Barat. Di daerah pesisir utara Pulau Jawa ini, terdapat sebuah bangunan bersejarah yang masih terawat. Beberapa bangunan di antaranya bahkan dapat dilihat sebagai simbol keberagaman.

Bangunan bersejarah simbol keberagaman itu ialah Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan masjid tua di Cirebon. Di kompleks peninggalan kerajaan Islam ini, terpasang kerawik asal Tiongkok.

Keberagaman juga terekam dalam Kereta Kencana Singa Barong. Kereta ini merupakan perpaduan bentuk burung, naga dan gajah. Burung mewakili Buraq, naga mewakili pengaruh Tiongkok, sedangkan liman atau gajah simbol Ganesha dalam Hindu.

Menurut pemerhati sejarah Cirebon, Mustaqim Asteja mengatakankeberagaman tersebut terbentuk dari cara Sunan Gunung Jati memimpin masyarakat Cirebon. Sekitar abad ke-15, Sunan Gunung Jati adalah seorang yang menjadikan Cirebon sebagai simpul penyebaran Islam di pantura Jawa.

“Beliau dapat mengatasi benturan budaya dan agama. Hal itu tampak dari peninggalan yang dibangun pada ratusan tahun lalu. Keberagaman ini diwariskan dari generasi ke generasi,” tutur Mustaqim.

Goa Sunyaragi

Objek wisata bersejarah yang juga bisa dikunjungi di Kota Cirebon adalah Goa Sunyaragi. Bangunan yang didominasi batu karang dengan beberapa lorong goa tampak menonjol  di antara hunian warga dan mal di sekitarnya.

Pada masa liburan sekolah, seperti pada akhir tahun lalu, kawasan peninggalan masa kerajaan itu dipadati oleh generasi yang lahir pada tahun 2000-an. Salah satunya ialah Anjar Subih, siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Islam Al Huda, Bogor, Jabar.

Bersama sekitar 20 teman sekolahnya, ia mendengarkan secara seksama penjelasan sipemandu yang tentang riwayat Goa Sunyaragi. Kepalanya mendongak, memandangi batu karang yang tersusun rapi. Kekaguman terlihat di matanya.

Ia menuliskan makna Goa Sunyaragi di lembar kerja siswa(LKS). Ia belajar sambil bermain, berjalan ke sana kemari dan acap kali berfoto. “Ini kan study tour. Jadi, belajar sambil berwisata,”ucap Anjar.

Ia tidak pernah menduga jika bangunan tua tersebut masih ada di zaman modern seperti sekarang. Ia pun sama sekali tidak mengeluh waktu liburannya diisi dengan kegiatan belajar. “Dulunya ini adalah taman sari Keraton Kasepuhan Cirebon,” ujar Anjar, sembari menceritakan sejarah Goa Sunyaragi.

Menurut ketua panitia studi tour sekolah itu, Siti Aisyah, liburan sekolah menjadi waktu yang tepat untuk berwisata sambil mempelajari sejarah dan budaya. “Cirebon terkenal sebagai kota budaya. Ada banyak peninggalan sejarah,” ujar Siti.

Di Goa Sunyaragi, dulu terdapat air kolam yang berasal dari sebuah Danau Segaran Jati. Kawasan tersebut dikelilingi oleh pohon jati. Dibangun oleh Panembahan Ratu, tempat ini bertujuan untuk mengasah batin putra-putri Keraton Cirebon.

Thamrin Iskandar dari Badan Pengelola Goa Sunyaragi mengatakan jika nama Sunyaragi berasal dari dua kata, yakni sunya dan ragi. Sunya diambil dari kata sunyi yang berarti ‘sepi, sunyi atau kosong’. Adapun ragi diambil dari kata raga yang berarti ‘badan atau tubuh’.

Sekalipun Goa Sunyaragi kini berada di Jalan By Pass Brigjen Darsono dan di tengah padatnya penduduk kota, keheningan masih dapat kitarasakan ketika memasuki lorong goa. Udaranya juga terasa sejuk.

Ribuan Orang

Setiap akhir pekan sekitar 2.000 pengunjung datang ke tempat itu. Sejak Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) beroperasi pada 2014 banyak wisatawan dari Bandung dan Jakarta yang berdatangan.

“Sekarang, tempat ini menjadi media pembelajaran sejarah serta budaya Cirebon. Setiap akhir pekan, setidaknya terdapat dua rombongan sekolah dari dalam dan luar Cirebon datang,” ungkap Thamrin.

Pada akhir tahun lalu, di halaman Goa Sunyaragi, beberapa siswa SMK Pakungwati juga berlatih menari. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk pementasan Warsa Enggal 2017, sebuah kegiatan untuk perayaan malam pergantian tahun 2016 ke 2017.

Para siswa ini memperagakan tari topeng. “Sudah tiga tahun terakhir kami mengadakan kegiatan ini. ini bukan ujian sekolah,” ujar Irfan Handrian, guru SMK Pakungwati.

Tempat-tempat bersejarah seperti ini memiliki banyak fungsi. Di satu sisi, tempat bersejarah seperti Keraton Kasepuhan dapat menjadi tujuan wisata yang mendatangkan penghasilan.

Di sisi lain, tempat bersejarah seperti ini juga membantu anak-anak untuk belajar keberagaman, sejarah bangsa, sekaligus mengekspresikan jiwa seni mereka.

 
Keywords : goa sinyuragi,cirebon,wisata cirebon,tiket murah,tiket online murah,tiket garuda