Perkembangan teknologi di dunia sudah berlangsung sangat pesat dibanding dengan kondisi 5 tahun yang lalu. Salah satu faktornya adalah pertumbuhan industri smartphone yang luar biasa. Berbagai macam vendor berlomba-lomba memasuki pasar pengguna smartphone yang memang sangat besar di Indonesia.

Dari data yang saya peroleh di wearesocial, jumlah mobile subscriptions di Indonesia bahkan mencapai 326.3 juta atau 26% lebih dari total populasi masyarakat Indonesia. Kasarnya, masing-masing orang memiliki lebih dari satu sim card.

Sementara untuk pengguna mobile yang mengakses internet adalah sebanyak 25%. Jauh dibawah pelanggan sim card, yang berarti peluang pasarnya masih sangat luas.

Situasi ini tidak lepas dari gaya hidup masyarakat Indonesia, yang senantiasa gemar berbelanja. Bahkan untuk sesuatu yang tidak perlu-perlu amat untuk dibeli.

Ada sejumlah alasan yang mempengaruhi perilaku ini, seperti yang saya kutip dari situs bisnis.com yang juga mengambil sumber dari buku Wealth Wisdom oleh penerbit Permata Bank dan Gramedia. Beberapa diantaranya adalah gaya hidup, reputasi, serta promosi-promosi menarik seperti diskon, dan sebagainya.

Industri smartphone di Indonesia sudah mengalami berbagai peralihan, sejak Nokia berkuasa, kemudian RIM dengan BlackBerry-nya, hingga kini masyarakat sudah terbiasa menggunakan smartphone dengan sistem operasi Android dan iOS. Sementara dua nama besar tersebut mulai hilang ditelan perkembangan.

Sejak operating system(OS)  mulai canggih dengan munculnya app marketplace, banyak orang mulai melirik pangsa pasar smartphone. Berbagai aplikasi untuk menambah pengalaman pengguna smartphone banyak beredar di masing-masing OS.

Google dengan Android OS-nya memiliki penetrasi lebih luas karena OS-nya yang berbasis open source bisa dikembangkan oleh vendor smartphone manapun. Sementara Apple dengan iOS-nya lebih mengincar segmen pasar kelas atas yang mencari kemewahan.

Para pengamat sudah melihat bahwa perangkat komputasi, baik dengan bentuk desktop maupun mobile, akan menjadi teknologi masa depan untuk mempermudah hidup manusia. Setelah transisi mobile computing berakhir, kini akan dilanjutkan dengan artificial intelligence.

Tren mobile pintar akan terus berlanjut di masa mendatang. Salah satu trennya adalah fasilitas mobile payment. Dimana fitur ini memungkinkan orang untuk melakukan segala pembayaran melalui perangkat smartphone miliknya. Teknologi ini diperkirakan akan menggeser kedudukan uang kertas dan kartu kredit sebagai alat pembayaran. Apalagi sekarang sudah sangat banyak sekali penjual barang online, yang artinya orang wajib membayar barang yang dibeli entah melalui kartu kredit atau transfer antar rekening bank.

Sayangnya, mengutip dari Dailysocial.id, hanya 19% penduduk Indonesia yang bankable. Artinya 81% masyarakat Indonesia lainnya tidak memiliki akses perbankan. Sehingga hal ini menyulitkan industri e-commerce untuk berkembang. Makanya banyak dari perusahaan finance, termasuk dari perbankan sendiri yang bermanuver menciptakan teknologi pembayaran yang memudahkan masyarakat.

Industri telekomunikasi pun tidak mau ketinggalan, mereka perlahan-lahan masuk ke ranah e-commerce untuk merebut pangsa pasar di sektor ini. Dalam beberapa tahun sejak era e-commerce mulai merebak dan kemudian, voila!, mobile payment sudah mulai akrab di telinga.

Secara garis besar, mobile payment berfungsi sebagai alat pembayaran yang bisa digunakan baik untuk pembayaran konvensional maupun yang sifatnya online. Pengguna cukup memberikan kode transaksi kepada penjual untuk kemudian memverifikasi kode tersebut. Dana otomatis akan terdebet dari rekening/kartu kredit/virtual account pengguna dan masuk ke rekening penjual.

Meskipun menawarkan kemudahan, tetapi resiko mobile payment ini juga tidak kalah besar. Satu yang perlu diperhatikan adalah dari segi keamanan. Maraknya pencurian data nasabah hingga pembobolan rekening menjadi alasan kenapa banyak masyarakat yang masih enggan melakukan transaksi elektronik. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi para pelaku usaha di industri ini untuk lebih mengutamakan keamanan pengguna disamping mengedukasi masyarakat.

Meskipun demikian beberapa perusahaan fintech (financial technology) seperti DavestPay sudah menerapkan teknologi keamanan standar internasional, yang memungkinkan transaksi online tetap aman.

Kesimpulannya, teknologi tidak akan pernah bisa dibendung perkembangannya. Tapi adalah manusia yang harus bisa beradaptasi terhadap teknologi. Disamping itu juga para pemain di industri besar ini masih harus terus berbenah meningkatkan layanannya serta saling bekerjasama untuk memuluskan transisi mobile payment di industri e-commerce Indonesia.

 

Keywords : davestpay, bayar online, tiket online, agen tiket, agen travel, travel online, tiket murah, bayar pln, voucher game, ppob, bayar bpjs