Otoritas Rusia telah mencurigai perusahaan teknologi raksasa, Apple dalam melakukan praktik pengaturan harga dengan melakukan persekongkolan dengan para retail agar memberikan harga iPhone di angka tertentu.

Usai melakukan penyelidikan selama tujuh tahun sejak bulan Agustus 2016 kemarin, Badan Anti-monopoli Rusia (FAS) menetapkan bahwa rupanya Apple memang bersalah karena telah melakukan praktik pengaturan harga secara illegal terhadap 16 retail iPhone di Negara Rusia.

FAS mengungkapkan bahwa Apple telah mengawasi harga jual iPhone yang diecer oleh para retailer yang dimaksud. Jika ditemukan ada retail yang menjual dibawah harga yang diterapkan, maka pihak Apple akan memberikan teguran dengan disertai ancaman untuk memutuskan kontrak penjualan.

Pengaturan harga atau price fixing termasuk dalam kejahatan kerah putih dan rupanya telah dilakukan Apple sejak beredarnya iPhone 5S di Rusia pada 2013, hingga iPhone 6S pada 2016 lalu.

Apple pun diberikan waktu selama 3 bulan dalam pengajuan banding atas keputusan tersebut di pengadilan. Jika telah mengajukan banding dan tetap kalah, maka Apple akan dikenakan denda sebesar 15% dari total penjualanya di Rusia.

Sebenarnya hal tersebut bukan yang pertama kalinya dialami oleh perusahan besar ini. Pada Juni 2015 lalu, pengadilan banding di New York, Amerika Serikat, menetapkan bahwa Apple bersalah karena telah melakukan konspirasi dengan 5 penerbit untuk penetapan harga e-book. Saat itu, Apple setuju untuk membayar denda sebanyak 430 juta dollar AS.

Kasus seperti ini juga pernah menjerat Google. FAS pernah menuding Google bersalah karena memaksa para pabrikan smartphone agar selalu mengedepankan layanannya di produk smartphone masing-masing. Google dikenai denda sebesar 7,4 juta dollar AS.

Apple sendiri diketahui telah menerapkan control ketat atas harga produknya di berbagai cakupan pasar. Hal tersebut dilakukan demi menjaga margin profit agar tetap tinggi.

 
Keywords : harga update iphone,harga baru iphone,apple,pasar iphone