PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) memerlukan mata uang asing alias valas sebesar US$ 7,5 miliar dalam satu tahunnya. Dengan demikian, PLN bisa memanfaatkan fasilitas perlindungan nilai tukar atau hedging.

Iskandar sebagai Kepala Divisi Treasury PLN mengungkapkan bahwa kebutuhan valas sebesar US$ 7,5 miliar dipakai untuk investasi, membeli energi primer demi pembangkit listrik dan membayar listrik yang diproduksi pembangkit milik pengembang listrik swasta atau Independent Power Producer/IPP.

Iskandar menambahkan bahwa ada yang diperuntukkan investasi, ada pula untuk operasional, sama halnya dengan gas yang masih dibayar dengan dolar. Karena sudah banyak valas yang diperlukan, maka PLN terus melakukan mitigasi risiko. Sebab, pergerakan nilai tukar susah diperkirakan, walau tahun ini diprediksi cukup stabil.

Iskandar juga menjelaskan bahwa poinnya yakni PLN dengan kebutuhannya setahun hampir US$ 7 miliar tersebut harus mengurangi mitigasi risiko. Volatilitas tahun ini terbilang stabil. Namun tahun depan belum pasti. Dua ataupun sebulan mendatang tak bisa diprediksi. Maka dari itu, yang menjadi kewajiban sekarang yakni mitigasi risiko.

Salah satu cara untuk mengurangi risiko yakni memanfaatkan fasilitas hedging yang disediakan oleh pihak Bank Indonesia. PLN juga sudah melakukan penandatanganan kontrak transaksi lindung nilai dengan 3 Bank BUMN. Hal ini demi meningkatkan pengelolaan risiko valuta asing lewat transaksi lindung nilai.

Skema dari transaksi yang dipakai dalam lindung nilai pada kesepakatan itu berupa call spread option. Skema ini dianggap akan lebih efektif sebab mempunyai biaya premi relative lebih efisien daripada dengan instrument lindung nilai yang lainnya. 

 
Keywords : pln,berita pln,kenaikan tarif listrik,dirut pln,kantor pln pusat,diskon pln