Jika berkunjung ke Jawa Timur anda wajib menikmati Kopi Utek di Desa Banjar Banyuwangi, Jawa Timur.

Cara penyajiannya kopi tanpa gula dan bongkahan gula yang ditempatkan pada wadah yang terpisah. Cara menikmatinya bongkahan gula nira digigit baru kopi diseruput.

Ia mengatakan minum kopi di desanya di pagi hari sudah menjadi tradisi sejak dulu dan masih berlangsung hingga sekarang. Tetapi karena Desa Banjar adalah penghasil gula nira jadi rasa manis yang biasanya menggunakan gula pasir dalam kopi diganti dengan gula nira.

"Ada seribuan pohon aren yang diambil sarinya dan di jadikan gula nira. Kalau untuk kebun kopinya ada sekitar 11 hektar kopi rakyat," jelasnya.

Sementara itu Teguh Siswanto dari Banyuwangi Coffe Community menjelaskan menikmati kopi utek tidak mengurangi rasa asli dari kopinya.

Jika menikmati kopi dengan gula pasir maka rasa manisnya lebih dominan sedangkan jika dinikmati dengan gula nira yang digigit rasanya lebih seru di lidah karena tercampur di mulut.

Pemilik Cafe Kopi Oseng Plantation yang berada di Desa Banjar mengatakan ada keistimewaan tanaman kopi di daerah Banjar yaitu letaknya di timur Gunung Ijen jadi terkena sinar matahari langsung serta mendapatkan uap air garam dari laut Selat Bali dan juga mineral belerang dari Gunung Ijen.

"Keistimewaan itu yang membuat kopi di daerah ini memiliki taste yang berbeda dengan kopi lainnya," ujarnya.

Untuk menikmati secangkir kopi utek, Teguh membanderol harga antara Rp 5.000 sampai Rp 7.000.

Kopi yang disajikan adalah kopi tubruk yang berasal dari kebun kopi miliknya yang berada di Desa Banjar, Banyuwangi. Dengan cara penyajian kopi tubruknya disajikan tubruk dan gula niranya yang ditempatkan di wadah terpisah, seperti tradisi masyarakat Banjar.

 
Keywords : kopi indonesia,kopi utek,kopi khas banjar,varian kopi indonesia