Menjadi single parent alias orang tua tunggal akan menuntut banyak mengenai kebijakan dalam hal perilaku keuangan. Terdapat beberapa pos pengeluaran yang sebelumnya ditanggung oleh dua orang, namun akhirnya harus sendirian. Sebelum berpisah, mungki telah terdapat pembicaraan dengan mantan terkait pembagian tugas serta tanggung jawab pada anak. Tetapi, hal tersebut tak selalu berjalan dengan semestinya. Terkadang adapula orang tua yang ketika sudah menikah lagi, maka akan terkesan ‘cuek’ pada anaknya pada pernikahan terdahulu. Maka dari itu, apabila sekarang ini sedang menjalani posisi single parent, sebaiknya siap mental dalam mengambil tanggung jawab keuangan sendiri. Berikut ini dapat dilakukan demi mengontrol keuangan menjadi orang tua tunggal, antara lain : Selalu buat prioritas keuangan Single parent, wajib pintar dalam memilih mana yang kebutuhan, keinginan, serta kewajiban. Apabila telah bisa membedakan masing-masing, maka dengan sendirinya pun bakal bisa melakukan pengurangan. Catat dan lakukan evaluasi pengeluaran, contohnya selama tiga bulan. Berapapun pengeluarannya, tetap harus dicatat. Proteksi dan dana pendidikan Usahakan untuk berpikir mengenai masa depan anak sejak dini, contohnya dengan mempersiapkan asuransi kesehatan, dana pendidikan, asuransi pensiun, ataupun berlibur saat pensiun tiba. Dalam hal ini single parent mempunyai risiko yang lebih besar, jadi paling berisiko dalam hal kesehatan. Single parent memerlukan proteksi yang lebih besar daripada ketika masih berpasangan. Asuransi terpenting untuk ibu tunggal yakni asuransi jiwa supaya terdapat dana yang dapat dipakai untuk pengganti orang tua dalam mengurus anak jika terjadi kematian. Belilah asuransi kesehatan serta pendidikan supaya gaji yang dikumpulkan tak habis hanya demi membiayai perawatan medis. Demi membayar premi asuransi serta dana darurat, bisa dengan mengambil dari pos pengeluaran cicilan utang, investasi, tabungan dan kurangi anggaran untuk hiburan. Persiapkan waris Karena sudah menjadi single parent, maka jika terjadi sesuatu dengan diri sendiri, maka bisa dengan mengatur kekayaan dan waris untuk anak. Apalagi jika memiliki anak yang berusia dibawah 17 tahun. Maka dari itu, diskusikan dengan perencana keuangan dan notaries perihal pengamankan waris serta distribusikan harta ke anak.
 
Keywords : dana pension,pension dini,menabung