Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS Kes) menargetkan defisit neraca keuangan perusahaan dapat berada di bawah Rp 9 T sampai tutup tahun kedepannya. Adapun termasuk penyebab dari defisitnya keuangan berkaitan dengan banyaknya peserta yang menunggak iuran. Kemal Imam Santoso selaku Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kes menyatakan bahwa awalnya diperkirakan defisit neraca keuangan hingga akhir tahun senilai Rp 9 triliun. Tetapi manajemen sudah memastikan untuk mengusahakan supaya dapat berada di bawah angka itu. Ia pun menambahkan bahwa defisit ini terjadi karena iuran yang sekarang ini diberlakukan tak berdasarkan pada perhitungan aktuaris. Sekarang ini, untuk PBI atau penerima bantuan iuran senilai Rp 23 ribu serta PBPU (Peserta Bukan Penerima Upah) senilai Rp 25.500. Adapula upaya yang dilakukan oleh manajemen demi mengatasi hal ini, seperti memberikan pembinaan dan sosialisasi pada para peserta untuk mematuhi iuran, bekerjasama dengan perbankan demi memudahkan pendaftaran dan pembayaran iuran. Termasuk penyebab defisitnya keuangan berkaitan dengan banyaknya peserta yang menunggak iuran. Maka dari itu, BPJS Kes bersama dengan PT BNI (Persero) Tbk merilis tabungan sehat yang berkhusus pada para peserta yang menunggak iuran. Dari data BPJS Kes, total peserta JKN KIS di tahun 2017 sampai 184,4 juta jiwa dengan tingkat kepatuhan membayar sampai 91,9%. Jumlah ini naik dari tahun lalu yang mencapai pada 171,9 juta jiwa.
 
Keywords : bpjs ks,jkn,bpjs kesehatan,bayar bpjs